Laman

Minggu, 01 Januari 2012

Wisata Hati.com

Buat Saudara yang ikut KuliahOnline di wisatahati.com, 
dan sudah mengikuti Kulia Dasar Tauhid, pembahasan ini sudah ga asing. 
Juga buat Saudara yang mengikuti Kuliah 100 Kasus Sedekah, 
pembahasan ini pun sudah ga asing. Apalagi buat Saudara yang rajin
mengikuti tayangan wisatahati sejak dari MNC dulu (Nikmatnya Sedekah), 
hingga sekarang ini, di ANTV. Insya Allah sudah ga asing lagi dah.




Hanya kali ini, saya buat seri kuliah sedekah untuk social media, baik lewat Twitter, BB, FB, 
dan media-media jejaring lainnya. Dan saya masukkan ke dalam kuliah inspirasi dan motivasi 
untuk beberapa seri ke depannya. Apa tujuannya dibuat seriini? Saya berharap Saudara mau 
mengajarkan sedekah ini kepada yang lain. Saudara pahami, dan Saudara ajarkan kepada yang lain. Juga tentu saja, supaya semakin semangat berbagi, dan paham seluk beluk sedekah.
Ok, kita mulai dari pembahasan paling jadul, he he he.
Apa yang Saudara lihat dari matematika di bawah ini?
10-1     = 19
10-2     = 28
10-3     = 37
10-4     = 46
10-5     = 55
10-6     = 64
10-7     = 73
10-8     = 82
10-9     = 91
10-10v   = 100
Bukannya 10 dikurang 2 itu 8? 
Bukan. Lihat angka-angka di atas. 
Berapa? 
10 dikurang 1 itu 19, dan 10 dikurang 2 itu 28. 
Koq?
Semakin dikurangi, semakin gede bilangan hasilnya ya?
Ya, sebab itu bukan matematika manusia. Itu Matematika Allah. Matematika Sedekah.Matematika pertambahan. Sedangkan kalau matematika manusia, matematikanya matematika pengurangan. Sehingga pertanyaannya ketika kita bersedekah mengeluarkan hartakita adalah: Tinggal berapa? Bukan jadi berapa. Dihitungnya sedekah sebagai pengeluaran. Bukan sebagai investasi.
Menurut matematika manusia, tinggal 9  jika kita memberi 1 dari 10 yang kita punya. Tapi kalau matematika sedekah, pertanyaannya adalah: Jadi berapa jika kita sedekah 1 dari 10 yang kita punya? Maka jawabannya: Jadi 19. Tidak ada itu pengurangan. Yang ada adalah penambahan, pelipatan. 
Ya, saya sebut juga matematika pelipatan. Sebab Allah memang memberi penggantian lebih kepada mereka yang mau bersedekah. 2x lipat, 10x lipat, 700x lipat, hingga bilangan pelipat yang tak terbatas dari Allah. 
Hitung-hitungan matematika di atas memakai bilangan pengembalian dari Allah 10x lipat (Baca Qs. 6: 160). Kalau pake bilangan pengali 700x lipat? Jumlahnya akan wow! Amazing! Luar biasa! 10-1 = 709! (Baca Qs. 2: 261).
Lihat tabel berikut ini:
10-1     = 709
10-2     = 1408
10-3     = 2107
10-4     = 2806
10-5     = 3505
10-6     = 4204
10-7     = 4903
10-8     = 5602
10-9     = 6301
10-10   = 7000
Lihat? Punya 10, disedekahkan 10-10 nya, malah jadi 7000! Pembahasan ini ketemu pembahasan menariknya saat membahas sedekkah dan rizki, sedekah dan gaji, sedekah dan usaha, sedekah dan bisnis. 
Lihat cuplikan implementasi berikut ya:
Gaji                    : Rp. 1.000.000,-
Sedekah              : Rp. 1.000.000,-
Hasil 10x lipat     : Rp. 10.000.000,-
Hasil 700x lipat  : Rp. 700.000.000,-
Tidak salah jika para guru, para orang tua, mengajarkan sedekah. Supaya berlipat-lipat lagi rizki buat kita. 
Itu belum bicara BONUS++ berupa ampunan Allah, kasih sayang Allah, ridho Allah, surganya Allah. Belum. Ini baru gigi 1. Begitu saya bilang kalo bicara tentang matematika ini. Baru bicara matematika sedekah. 
Belum bicara juga konversian balasan sedekah berupa jawaban Allah bagi hajat dan masalah kita: Anak keturunan, jodoh, keluarga, pekerjaan, karir, keuangan, kesehatan dan soal-soal lain. 

Kita pun belum bicara tentang sedekah dan doa, sedekah dan keikhlasan, sedekah dan kesabaran, sedekah dan baik sangka, sedekah dan tawakkal, sedekah dan istiqomah, sedekah dan ibadah, sedekah dan kesehatan, sedekah dan umur panjang, sedekah dan surga, sedekah dan neraka, sedekah dan cinta Allah, sedekah dan cinta Rasul. Belum. Baru bicara matematika dasar sedekah. Matematika dasar pun akan dibahas beberapa seri ke depan. Insya Allah. 

Menarik sekali membahas mengapa sedekah koq ga dibalas? Boleh ga sedekah dengan mengharapkan sesuatu balasan? Boleh ga sedekah ke orang tua sendiri, atau ke keluarga sendiri? Boleh ga sedekah sementara kita punya hutang? Apakah sedekah bisa bener-bener mendatangkan jodoh, anak, pekerjaan, rumah, mobil? Kapan sedekah bisa cepet dibalas Allah? Kapan sedekah malah ditolak Allah? Bagaimana sedekah yang benar itu? Gimana pula memperbesar pahala sedekah? Bisa kah orang miskin bersedekah seperti orang kaya? Bisakah seorang yang tidak punya, membangun masjid? Membangunsekolah dan pesantren? Apa yang tidak bisa ditembus dengan sedekah?

Di buku saya atas izin Allah, Introduction to the miracle (miracle of giving), pertanyaan-pertanyaan ini saya jawab melalui KuliahOnline. Dan sekarang saya berbagi dengan Saudara melalui seri Kuliah Inspirasi dan Motivasi Wisatahati. Mudah-mudahan dapat izin dan ridha-Nya.
Oh ya, mulai seri ke-3 nanti, atau pembahasan matematika dasar sedekah 2 dst., seri ini saya tulis saban minggu malam saja ya. Saban minggu malam jam 20.00, insya Allah Saudara bisa mendownload tulisan ini atau sekedar berbagi dengan yang lain.
Sampe ketemu di pembahasan berikutnya. 
Untuk yang mau ikut pembahasan bismillaah dan a’uudzu billaah, sampe ketemu di Pesantren Daarul Qur’an. infonya, silahkan baca ulang tulisan sebelumnya, yang judulnya: Ada yang ga suka sama saya. Ada di sana.
Makasih ya.  
Salam, Yusuf Mansur - www.wisatahati.com.
Yeaaah, postingan ini khusus gue persembahkan buat unjuk gigi kalo gue sekarang udah punya KTP! Maaf ye rada norak. Hahaha. WHY???? Gue sering banget bermasalah gara-gara gak punya KTP. Mulai dari gak diterima kerja hanya karena alasan takut kena pinalti umur (karna waktu itu gue gak punya KTP berarti gue dibawah 17 tahun dan mereka takut diadili dengan pasal MEMPEKERJAKAN ANAK DI BAWAH UMUR) sampai gue gak bisa buka buku tabungan sendiri.

Tapi, sekarang? GUE PUNYA KTP. Itu artinya, umur gue udah 17 tahun. Seneng punya KTP? Gak juga sih. Karna sebenernya gue sedih. Gue bukan gadis kecil nan imut *huek* kayak dulu. Yap, namanya juga hidup, kita harus berkembang. So, gue sedang tahap akhir penemuan jati diri.

Di usia gue yang 17 tahun ini, bener-bener seperti hidup matinya gue. STRES Proyek Akhir, nangis darah ikut tes ekstensi ke It Telkom, dan hal-hal lain yang bikin gue bener-bener ngerasain susahnya harus hidup jauh dari keluarga dengan umur gue yang masih LABIL.

Gue seneng, di umur gue yang 17 ini, gue udah pake kerudung, semoga istiqomah. Amin Ya Rabb.

Hmmm... Tapi buat kalian yang masih manggil gue KECIL, UNYIL, BOCIL, ADEK, gue tetep seneng kok. Karna gue bisa berasa mudaaaa setiap saat. Hihi

Yang pasti, DEWASA BUKAN DARI PENAMPILAN, TAPI DARI POLA PIKIR. Jadi, kalo gaya gue childish, jangan anggap gue gak dewasa yaa..

Tapi gue sadar kok, gue harus tetep banyak belajar dari lingkungan di sekitar gue. Ini gue kasi unjuk KTP gue yang dikirimin nyokap langsung dari Medan (barengan sama makanan, thanks mom, i love you :* )
Gue gak ngerayain tahun baru masehi dan jujur, di kamus gue gak ada yang namanya tahun baruan. Mungkin beberapa diantara lo ada yang jalan-jalan atau makan malem sama someone special di malem pergantian tahun. Gue? Biasanya gue hanya mengurung diri di kamar, sedikit merenung dan banyak ONLINE muehhee. Intinya bukan itu, gue cuma pengen flash back apa yang udah gue lakuin buat hidup gue di tahun 2011 ini.

Tahun ini adalah tahun paling menegangkan yang pernah gue jalani. Apalagi, tahun ini gue menginjak umur 17 tahun, dimana gue harus bener-bener ngejalani tanggung jawab gue, kepada Allah, orang tua gue, orang lain, dan diri gue sendiri. Awal tahun ini, gue awali dengan romantika cinta gue dengan seseorang yang berbeda iman sama gue. Yap, tapi hubungan itu kandas dimakan oleh 'pembullyan' dan berakhir saat gue mulai sibuk untuk seminar Proyek Akhir. Tahun ini gue juga jadi panitia ospek. Gue terkesan galak dan ambisius. Hmm, mungkin karna otak gue selalu penuh rencana *sinis*.<span>

Alhamdulillah, tahun ini gue semakin islami. Kerudung ini bener-bener netep dan melekat di hati gue. Gue pengen kerudung ini bukan cuma di kepala doang, tapi hati gue juga gue kerudungin. Sayangnya, di tahun ini gue masih suka marah-marah dan GALAU. Dan gue berprinsip sekarang,
GALAU melemahkan KEKUATAN DOA!

Tahun ini gue pindah kosan. Gue suka suasana kosan gue yang baru. Lebih sepi. Gak ada cowok yang mondar mandir kayak di kosan lama. Disini hidup gue lebih tenang. Anak kosannya juga gak kalah asiknya sama di kosan lama. Mereka rajin ibadah dan gak sering hura-hura, itu yang gue suka. Apalagi, si tante kosan bisa dimintai bikinin gue sarapan. Disini juga internetnya bagus.

Subhanallah, alhamdulillah, gue bersyukur banget tahun ini gue bisa nyelesain skripsi atau proyek akhir dengan tepat waktu. Ini kenikmatan yang luarr biasa. Selain itu, perjuangan gue tiada henti untuk melanjutkan studi ke IT Telkom berbuah manis. Walau kenyataannya, D3 dari Politeknik Telkom yang diterima di IT Telkom hanya segelintir, sehingga yaa temen gue cuma ada tiga orang. Fiuuh *niup poni*. Tapi, gak ada waktu untuk mengeluh.

Tahun ini, ayah dan bunda tercinta pergi haji. Sedih banget rasanya waktu liat foto mereka sebelum berangkat. Hanya FOTO, ya karna gue sedang di perantauan. Harapan gue, semoga kedua orang tua gue menjadi Haji Mabrur. Amin. Ya Allah, gue takuut banget bunda sama ayah kenapa-kenapa. Dan saat bunda di Jeddah, bunda telp :
Bunda : "Assalamualaikum, yang lagi dimana?" *mama manggil aku yang, artinya sayang*
Gue : "Wa'alaikumsalaam, lagi di kampus mom, apa kabar mom tatieek?" *nama bunda taty, panggilan sayang tatiek*
Bunda : "Alhamdulillah, lagi di Jeddah ni, sama bapakmu, jalan-jalan hehe"
Gue : "Alhamdulillah kalo baik, wah enak yah, yaudah hati-hati bu"
Bunda : "Mom udah beliin tas, mukena, coklat, mau apa lagi?"
Gue : *agak marah* "Gak mau apa-apa, cuma mau bunda ayah pulang dengan selamat.."
Bunda : *diam sejenak* "Love you daughter, yang, mom balik deh ke hotel.. baik-baik disana, Assalamu'alaikum"
Gue : "Iya bun, miss you, wa'alaikumsalaam..."
Huaaa gue pengen nangis tuh bunda malah nanya mau dibeliin apa aja. Gue gak ada kepikiran kalo mau minta oleh-oleh sama ayah bunda yang lagi ibadah. Iya ayah, bunda, anak kalian ini hanya ingin Allah senantiasa melindungi kalian, malaikatku di dunia. Teruntuk kakakku yang sedang melanjutkan S2, cepat nikah kak, beda umur kita 9 tahun, gue yakin lo jadi istri yang baik. Kecup basah kakakku sayang.

Di tahun ini gue kembali jadi asisten dosen. Hmm, cuman temen-temen asdos gue agak-agak melempem. Maksudnya, gak bisa diajak berbaur. Entah mengapa. Bedaaa banget rasanya sama asdos-asdos sebelumnya. Fufufu, soalnya mereka rata-rata mengelompok karna dulunya temen sekelas atau SEOrganisasi. Gak asik menurut gue. Nah, tapi gue coba untuk berbaur. Dan di antara mereka, ada yang terhipnotis dengan kegilaan gue. Muahahhahaha *ketawa ala gatotkaca*. Dan mereka adalah Nami, Sari, dan Vika. Mereka adalah asdos-asdos galau. Nami, galau nyari kerjaan dan sekarang hidupnya ngebantuin orang bikin skripsi.Sari, galau karna di tempat kerjanya gak begitu asik, gak boleh pake laptop men. Vika, galau karna skripsinya yang belum kunjung cerah. Gue? Galau karna ... karna ... *isi sendiri*. Semangat buat kita :)